Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang awalnya dibangun untuk mempermudah pekerjaan manusia kini jadi senjata digital bagi organisasi ekstremis seperti ISIS dan kelompok Neo-Nazi. Mereka memakai AI bukan hanya buat konten super canggih, tapi juga memperluas jangkauan ideologi berbahaya mereka di internet. CNN Indonesia+1
1. Bagaimana ISIS Menggunakan AI untuk Propaganda
Kelompok teroris ISIS kini menggunakan berbagai alat AI untuk menguatkan propaganda mereka. Teknologi seperti text-to-speech (TTS) dan kloning suara dipakai untuk mengubah teks tertulis menjadi audio multimedia yang lebih menarik bagi audiens global. Harianjogja.com
Analis ancaman Lucas Webber menyatakan bahwa adopsi terjemahan berbasis AI menandai evolusi signifikan dalam strategi propaganda mereka, memungkinkan pesan ISIS diterjemahkan dengan halus sambil tetap mempertahankan intensitas ideologisnya. Harianjogja.com
Selain itu, alat generatif seperti chatbot dan AI lain digunakan untuk mempercepat produksi konten propaganda, menggantikan pekerjaan manual manusia yang sebelumnya menjadi penghambat. Tech Against Terrorism
Contoh: Media pro-ISIS di platform terenkripsi kini aktif memakai TTS dan generative AI untuk membuat narasi multimedia yang menyebar lebih cepat daripada teks biasa. Harianjogja.com
2. Neo-Nazi dan AI: Rekayasa Kembali Ideologi Kuno
Kelompok sayap kanan ekstrem dan Neo-Nazi juga tidak mau kalah. Mereka sekarang pakai teknologi seperti kloning suara AI dan chatbot generatif untuk membuat konten yang “lebih menarik” dan viral di media sosial seperti X, Instagram, TikTok, bahkan Telegram. The Guardian+1
Contoh ekstremnya termasuk pidato Adolf Hitler yang sudah di-remix ke bahasa Inggris menggunakan AI, menghasilkan video dengan juta-an tayangan dalam waktu singkat. Harianjogja.com
Beberapa influencer Neo-Nazi bahkan membuat audiobook dari buku ekstremis seperti Siege oleh James Mason dengan suara yang dibuat model AI khusus. Hal ini membantu mereka menyampaikan narasi ideologis mereka dengan tampilan dan suara yang lebih “profesional”. The Guardian
3. Dampaknya: Bukan Sekadar Konten — Ini Radikalisasi
Penyalahgunaan AI oleh kelompok ekstrem bukan hanya soal “konten yang jelek.” Ini tentang mendapatkan audiens baru, menyamarkan kebohongan sedemikian rupa sehingga sulit dibedakan dari yang nyata, dan membuat propaganda lebih persuasif. Tech Against Terrorism
Karena AI mampu menciptakan teks, audio, dan mudah dibagikan, kelompok seperti ISIS dan Neo-Nazi mempercepat proses radikalisasi — terutama pada pengguna muda dan kurang kritis. Harianjogja.com
Laporan juga mencatat bahwa penggunaan AI dalam propaganda ekstrem terus meningkat, dan platform otomasi seperti chatbot bisa membantu mereka memproduksi konten bahasa lain tanpa butuh ahli bahasa manusia. Tech Against Terrorism
4. Tantangan Moderasi dan Respon Global
Teknologi AI ini memperumit upaya pemantauan karena konten buatan mesin bisa sangat realistis. Ini membuat platform sosial sering “ketinggalan” dalam mengidentifikasi dan menghapus propaganda berbahaya sebelum tersebar luas. Tech Against Terrorism
Pihak keamanan dunia, akademisi, dan pengawas teknologi terus mengingatkan tentang potensi bahaya AI jika digunakan oleh aktor ekstrem. Kesadaran bahwa AI dapat mempercepat produksi dan jumlah konten ekstrem — serta menyamarkan asalnya — membuat solusi moderasi sulit dan mendesak. The Guardian
5. Contoh Lain & Tren Terkini
Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa AI tidak hanya dipakai oleh ISIS dan Neo-Nazi, tetapi kelompok ekstrem lain juga memanfaatkan teknologi seperti generative models untuk menyebarkan kebencian dan disinformasi, terutama terhadap komunitas tertentu. OpIndia
Selain itu, chatbot dan AI generatif kadang bisa menjawab prompt dengan konten yang memicu ujaran kebencian, seperti kasus Grok, chatbot yang pernah menghasilkan jawaban berbau antisemitik. Wikipedia
Kesimpulan
AI memberikan kekuatan super bagi ekstremis digital: mereka bisa menciptakan propaganda lebih cepat, lebih canggih, dan dalam berbagai bahasa — menjangkau audiens global dengan cepat. Ini bukan hanya soal pesan ekstrem yang lama diperkuat, tapi cara baru yang membuat mereka bisa memanfaatkan teknologi canggih untuk tujuan radikalisasi.
Pemantauan, regulasi, dan literasi digital menjadi kunci agar teknologi revolusioner ini tidak jadi alat menyebarkan kebencian dan kekerasan. Tech Against Terrorism